(menikmati ratusan atau mungkin ribuan rintik hujan yang jatuh kala sore itu. Dibaliknya bersandar pecundang muda dgn memegang tali kekang nada. Jgn kira dia pejuang, apalagi pahlawan? Mencoba mencari tahu kebenaran dibalik kesesatannya.)
Dia mengambil alih kendali Trpikirkan begitu pelik dan mesranya hubungannya, kadang. Hubungan antara kamu, Dia dan aku.
Adakah Dia slalu ada dan menemani aku dan kamu? Bahkan disaat kamu kucumbu? Kadang trpikir untuk membawa durjana dalam benak. Mengalir trbawa dan memudar trtepis.
Sekarang berubah. Kamu, surga dan nerakaku. Bak malaikat pelintas jiwa2 kekal yang tlah menetapkan pilihan jauh sebelum itu.
Brtanyalah, adakah kau benar jadi pendamai? Seketika mereka hendak memaksaku, mengantarkanku kelembah kenistaan abadi?
Sejauh nurani menajam, pesona ke-kau-anmu, baik begitu adanya. Mengawasi setiap hasrat yang mengalir memenuhi haus labirinku.
Biarlah, nazar-Nya mengisi selongsong penuh waktu. Indah waktunya, segala sesuatunya. Entah sampai kapan dan slalu bisa kunikmati Untaian sabda teman penghibur.
Dia adalah anugerah trindah kembara hati. Menjalani, menghinggapi puluhan bahkan ratusan hati. Mungkin juga jawaban buat pertanyaan kasih dan sayang yang kau suka. Bukan juga cinta, karena tak kau suka.
Tak pernah kurasakan nuansa roman merah jambu atau bisa jadi ungu. Sambutan tangan, sorotan mata, lesung2 yang menempel di pipi, pasrah merekah bibir para hawa. Hadiah yang tak pernah hadir dalam perjalanan menelusuri lorong waktu.
Dan, ...
Baiknya ku berhenti dulu Dan meneruskan perjalananku Membuat prtanyaan baru atau hanya sekedar menjemput yg lalu2 Sore sudah brganti rupa Semuanya keliatan gelap Percuma memaksa sipenari tinta beraksi diatas kanvasku Lain waktu akan kuteruskan tarian itu Slalu dan akan slalu brtanya, "ada apa antara kamu, Dia dan aku?"
Pasca perang dunia II, dunia terbagi menjadi dua kubu kekuatan besar, yaitu blok barat yang cenderung mendewakan ideologi kapitalis dan blok timur dengan sosialisnya. Namun dimanakah posisi Indonesia? Praksis kita tidak menjumpai keikutsertaan Indonesia di kedua kubu tersebut. Para founding father negeri ini lebih memilih mendirikan poros baru yaitu gerakan non-blok yang notabenenya tidak memihak blok barat amupun blok timur.
Tentunya realitas tidak selalu hitam dan putih. Inilah posisi ke-Indonesia-an kita yang membuat geram negara-negara pelopor digdaya kedua kubu. Terlalu ringkas kalau Indonesia di nilai tidak mempunyai pendirian. Buktinya, Indonesia dapat menarik banyak simpati negara-negara berkembang pada waktu itu, yang tidak mau ikut sibuk memilih harus memihak blok timur dan barat. Jalan yang dipersiapkan bapak pendiri negeri masih kukuh dengan cita-cita internasional yaitu kemerdekaan kesejahteraan dan perdamaian dunia. Bukankah ini suatu pilihan?
Dalam konteks ekonomi, sebagaimana dikaitkan dalam usaha mensejahterakan mata pencarian semua golongan yang dikemukakan Herry Priyono (“Menggugat Arti Ekonomi”, Kompas, 01/3/2011). Dicontohkan, kesesatan mengartikan ekonomi itu sendiri mutlak sebagaimana mekanisme pasar (the market system) merupakan awal kesengsaraan/kegagalan dalam mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan. Sebab mekanisme pasar memiliki kecenderungan menyingkirkan orang miskin.
Seketika ekonomi hanya dimaknai sebagai mekanisme pasar, seketika itulah penitikberatan ekonomi hanya di arahkan kepada mereka-mereka yang memiliki daya beli. Namun bagaimana dengan mereka yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup ditengah-tengah himpitan sesak manuver empunya modal (survival)? Hanya mereka yang mempunyai daya beli/empunya modal yang mampu menikmati fasilitas keluaran (output) mekanisme pasar. Beruntung para ekonom survival, orang miskin dan hampir miskin masih bisa mendapatkan remah-remah dari para pengakumulasi modal. Akan tetapi bila tidak, semakin jelaslah kesenjangan/gap antara pejuang hidup dan pengakumulasi modal – si kaya dan si miskin.
Pilihan dan Solusi
Jalan tengah yang dimaksud disini adalah kedirian ekonomi itu sendiri, sekaligus solusi terhadap arah dan sasaran pembangunan yang seringkali membingungkan terhadap pencapaian-pencapaian gemilang dewasa ini. Kenaikan pertumbuhan ekonomi tidak diiringi dengan peningkatan kualitas bangsa. Kemiskinan, pengangguran, sulitnya memperoleh lapangan pekerjaan, tidak stabilnya kebutuhan pokok masih menjadi momok bagi bangsa ini. Inilah ironi ekonomi yang sedang dihadapi negeri.
Kegamangan dan kekeliruan dalam kebijakan yang sepertinya tidak didasari dengan akal sehat, tentunya dapat membawa kita kepada pengkategorian negara gagal. Tidak heran ada sebutan hanya segelintir orang yang menikmati kekayaan dan sumber daya di republik ini. Sedangkan mayoritas besar masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan hanya bisa pasrah meratapi hidup yang semakin hari semakin sulit. Belum lagi kita menyoal kebutuhan pendidikan dan kesehatan yang semakin mahal sebagai bagian dari implikasi ekonomi yang ‘kehilangan arah’.
Mengurai sejumlah persoalan ekonomi yang melanda negeri akhir-akhir ini, bukanlah soal yang mudah. Diberitakan pertumbuhan dan angka kemiskinan menunjukkan nuansa optimisisme pada awal tahun 2011. Namun pada kenyataannya, mayoritas masyarakat kurang – barangkali tidak merasakan optimisme di dapur-dapur produksi rumah tangga 120 juta-an warga miskin. Hanya segelintir orang yang mengangguk-angguk atas prediksi ekonomi ini. Selebihnya hanya bisa geleng-geleng atau tepatnya hanya bisa pasrah dan berlalu karena tidak mengerti atas pemberitaan ‘orang pintar’ di negeri ini.
Masih cukup relevan kiranya kita mengulas fenomena apa yang terjadi atas pemberitaan akhir-akhir ini. Tidak dalam rangka memperdebatkan mendukung paham liberalisme-kapitalis atau sosialisme-komunis. Bijaksananya, apapun itu, yang terbukti mampu mensejahterakan rakyat tanpa mendiskriminasikan (marginalisasi) kelas sosial harus mendapat dukungan dari pemangku kepentingan di republik ini. Harus patuh kepada ekonomi yang berkeadilan sosial. Tidak hanya memerdekakan kelompok segilintir orang, tetapi semua golongan. Kontiniutas dan diskontiniutas pemikiran dalam sebuah sistem merupakan ujian jaman terhadap setiap teori dengan memperhatikan realitas yang ada dalam masyarakat. Harusnya, ekonomi pembangunan Indonesia ada untuk itu.
Kemandirian adalah suatu konsep yang sering dihubungkan dengan pembangunan. Dimana mengusahakan masyarakat sebagai subjek dalam pembangunan itu sendiri. Kenyataan selamaini mayoritas masyarakat hanya menjadi objek pembangunan ekonomi. Sangat sedikit yang bisa mengakses alat-alat produksi, seperti tanah, teknologi, SDM yang memadai dan lain sebagainya. Pembangunan yang diusahakan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan, dan sangat jarang memperhatikan faktor manusia sebagai subjek pembangunan. Pada praktiknya, kita sering menjumpai martabat manusia merosot hingga sekedar menjadi alat untuk mencapai tujuan ekonomi.
Makanya tidak heran ketika kita menjumpai pemerintah mengumumkan prediksi dan hasil pembangunan kita selama ini tidak berbanding lurus dengan pemerataan pendapatan masyarakat. Nyatanya, masyarakat masih banyak mengeluhkan komoditas bahan-bahan pokok terus saja meroket, susahnya memperoleh lowongan pekerjaan, akses pendidikan dan kesehatan semakin susah dan mahal. Tentunya sangat memberatkan dan menyulitkan bagi mereka yang masih berjuang pemenuhan hidup sehari-hari.
Keterlanjuran pembangunan indonesia adalah ketidaksabaran dan kelatahan dalam membangun konsep ekonomi dan over confidence bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi semuanya akan beres, meskipun pertumbuhan ekonomi tinggi harus dicapai melalui banjirnya modal asing dalam bentuk investasi dan pinjaman. Rupanya tidak khawatir akan bahaya yang ditimbulkan utang-utang yang menumpuk (over-borrowing). Deregulasi dan liberalisasi dalam aturan keluar masuknya modal telah dibuat terlalu bebas, sampai-sampai tidak sadar ketika ekonomi Indonesia telah menjadi sangat liberal.
Salah satu konsepsi yang diperkenalkan para cendekiawan negeri ini yaitu yang sering kita sebut dengan ekonomi Pancasila atau ekonomi kerakyatan. Prinsip keutamaannya adalah semangat gotong royong. Pancasila yang identik dengan kata kerakyatan tersebut merupakan landasan nilai-nilai, cita-cita, kepribadian, jiwa dan pandangan hidup bangsadalam menghadapi persoalan hari ini dan masa depan ekonomi kita bersama. Ekonomi pancasila adalah ekonomi yang teguh berdiri sendiri dan tidak bersandar pada ekonomi barat dan timur. Pancasila adalah kritik menyeluruh yangpaling fundamental khususnya pembangunan Indonesia.
Kesalahan menentukan arah dan sasaran dalam pembangunan ekonomi, dapat menimbulkan kegamangan dalam hasil akhir (cita-cita) bangsa. Tentunya, kita sebagai entitas bangsa yang sedang mengemban tugas untuk mengisi pembangunan yang mensejahterakan semua lapisan masyarakat dan tentunya berkeadilan. Tidak berat sebelah. Negara ada untuk kepentingan rakyat. Kedaulatan sepenuhnya ditangan rakyat, bukan ditangan segelintir golongan karena semua mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama di depan undang-undang. Hikmat kerakyatan inilah yang menjadi dasar kebijaksanaan dalam merumuskan program-program pembangunan yang di landasi akal sehat kemanusiaan. Penetrasi dan konsolidasi ekonomi inilah yang akan membawa kita kembali ke koridor cinta akan kemajuan dan pembangunan yang berkeadilan.
Soe Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942, adik dari sosiolog Arief Budiman. Catatan harian Gie sejak 4 Maret 1957 sampai dengan 8 Desember 1969 dibukukan tahun 1983 oleh LP3ES ke dalam sebuah buku yang berjudul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran setebal 494 halaman. Gie meninggal di Gunung Semeru sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 — 16 Desember 1969 akibat gas beracun.
Setelah lulus dari SMA Kanisius Gie melanjutkan kuliah ke Universitas Indonesia tahun 1961. Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.
Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.
Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.
Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.
Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.
24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.
Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:
“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”
“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”
Selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah (yang ini saya belum punya) dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.
Tahun depan Mira Lesmana dan Riri Reza bersama Miles Production akan meluncurkan film berjudul “Gie” yang akan diperankan oleh Nicholas Saputra, Sita Nursanti, Wulan Guritno, Lukman Sardi dan Thomas Nawilis. Saat ini sudah memasuki tahap pasca produksi.
John Maxwell berkomentar, “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. “Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya. Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan lebih mengenal Soe Hok Gie” tuturnya.
Tentunya kita masih mengingat (barangkali) bagaimana peranan kaum-kaum cendikiawan muda dalam mengawal peradaban bangsa dan negara ini. Sejarah juga telah mencatatkan bagaimana pengaruh yang diberikan mereka dalam menyelesaikan agenda-agenda besar bangsa dan negara kita ini. Mulai dari masa kebangkitan nasional, sumpah pemuda, orde lama, orde baru sampai orde reformasi sampai saat ini. Tak bisa dipungkiri, dokumentasi sejarah kita banyak menjelaskan kaum-kaum intelektual punya peranan besar dalam mengantarkan bangsa kita pada masa sekarang ini.
Banyak tokoh-tokoh yang sudah menorehkan tinta emas dalam peradaban bangsa ini. Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Bung Tomo, Amir Syarifuddin, J. Leimena dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan penulis satu per satu. Mereka adalah cerdik cendikiawan muda atau yang paling sering kita sebut sebagai intelektual muda di jamannya. Banyak prestasi-prestasi yang berhasil mereka torehkan bagi bangsa ini, sehingga kita bisa menikmatinya sampai saat ini. Soekarno misalnya, tidak satupun (mungkin) rakyat di bumi pertiwi ini yang tidak mengenal sosok yang satu ini. Pengorbanannya begitu gigih dalam mengantarkan bangsa ini kedalam pintu kemerdekaan bersama rekan-rekan seperjuangan beliau hingga mengisi kemerdekaan itu sendiri.
Mahasiswa sebagai kaum-kaum intelektual muda punya sejuta perkerjaan rumah yang diwarisi pendahulu negeri ini dalam merumuskan/menggagas kebangsaan kita hari. Pesona juang mahasiswa dulunya tidak diragukan lagi. Masih segar diingatan bagaimana mahasiswa menumbangkan rezim Soeharto yang korup dan inkompetensi dalam mengawal perekonomian hingga mencapai puncaknya pada tahun 1998 yang ditandai awal dari sejarah berdirinya orde reformasi yang mencita-citakan pemerintahan yang bersih (good governance) dan maju ekonominya.
Belakangan ini, isu tentang kebangsaan (nation and character building) kembali marak didengung-dengungkan. Lembaga pendidikan kita juga ikut meramaikan isu ini melalui agenda yang sering disoalkan yaitu pendidikan karakter yang merupakan subsistem dari kebangsaan itu sendiri. Hingga presiden dan wakil presiden merasa perlu untuk memberikan komentarnya tentang kebangsaan kita hari ini. Akhlak, moral, budi pekerti, etika dan estetika, perilaku yang baik merupakan sekumpulan kata-kata yang sering disoal pemimpin negeri ini. Kita ingin menjadi bangsa yang memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Tentunya tidak sekedar unggul dan mulia yang biasa, tetapi menjadi bangsa yang genuine and bercirikan sejatinya Indonesia.
Soekarno pernah berwasiat: “tugas berat bangsa Indonesia dalam mengisi kemerdekaan adalah mengutamakan pelaksanaan nation and character building”. Tanpa wasiat ini barangkali negara ini tidak lebih hanya bisa menjadi bangsa boneka. Bangsa yang tidak mandiri, bangsa yang harus didikte bangsa lain. Kedaulatan, kemandirian dan kepribadian hanya menjadi mimpi bila bangsa kita melupakan wasiat salah satu founding father negeri ini. Kesalahan inilah yang dapat menjerumuskan Indonesia seperti apa yang diwanti-wanti bapak pendiri negeri ini, “menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa”. Bahkan untuk kemungkinan yang terburuk lagi, menjadi bangsa pengemis dan pengemis di antara bangsa-bangsa. Kebangsaan merupakan agenda besar bagi negeri yang sudah mulai kehilangan arah dalam dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Rasa kebangsaan adalah kesadaran kita berbangsa, lahir atas faktor-faktor kesamaan nasib dan tujuan. Bukan didirikan atas kesamaan agama, tempat, bahasa atau budaya. Konsensus dalam masyarakat merupakan ikhtiar yang terpenting yang dimanisfestasikan dalam sumpah pemuda (1928) yang tentunya di inisiasi oleh orang-orang muda yang berpikir buat kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Interaksi dan saling mempengaruhi dalam pengembangan wacana kebangsaan yang memiliki karakteristik yang dinamis dari waktu ke waktu, berbeda dalam satu lingkungan masyarakat dengan lingkungan lainnya. Ada pendekatan ras dan agama seperti Israel dan Yahudi, ada pendekatan ras-etnis (Nazisme), etnis-agama (Malaysia), sedangkan Indonesia lebih kepada pendekatan ideologi (Pancasila) dengan Geografi (Geopolitik) dalam merumuskan kebangsaannya.
Krisis multi dimensi yang melanda negeri ini telah memperlihatkan tanda-tanda awal munculnya krisis kepercayaan diri (self confidence) dan kehormatan (self esteem) sebagai bangsa. Eksistensi Indonesia sebagai bangsa (nation) sedang dipertaruhkan, melihat kecenderungan-kecenderungan yang terjadi di negara ini. Aspirasi politik untuk merdeka di berbagai daerah, skandal kasus-kasus korupsi, kedaulatan yang dijadikan barang mainan (kasus RI-Malaysia), krisis kepemimpinan, model ekonomi yang tidak mandiri merupakan wujud dan fenomena krisis kepercayaan diri sebagai suatu bangsa.
Lantas dimanakah peranan mahasiswa kita hari ini? benarkah bahwa kita mahsiswa harus berdiri di jalan-jalan untuk berdemonstrasi? Bukankah kita-kita ini pemikir yang harusnya berdiri dibelakang untuk bercerita mengenai konsepsi pemikiran yang membelenggu negeri kita. Penulis bukan ingin menampik anggapan yang terjadi belakangan ini dalam dunia mahasiswa kita hari ini, tetapi kecenderungan demonstrasi yang terjadi, gegap gempita di jalan tetapi miskin gagasan. Tidak heran dalam setiap manajemen aksi kita lebih banyak bercerita bagaimana meramaikan aksi ketimbang menggali isu-isu yang akan kita bawa. Mungkin ada benarnya juga, generasi kita lebih menyenangi gaya ketimbang makna.
Kekeringan intelektual yang dirasakan penulis mungkin bisa menjadi pelecut refleksi 65 tahun republik ini. semuanya rasa-rasanya sudah terseret keranah yang begitu artifisial. Jauh dari makna sejatinya. Demokrasi hanya dimaknai kebebasan tanpa batas yang (harus) dimanifestasikan dalam demonstrasi. Belum lagi kalau kita mengamati organisasi yang mengatasnamakan mahasiswa sebagai basis anggotanya yang notabenenya sebagai organisator pemikiran-pemikiran bernas kaum-kaum intelektual, ternyata tidak kuasa melawan tantangan arus modernisasi dan globalisasi.
Terlalu sering kita mendengarkan pernyataan , “jangan banyak berdiskusi, berbuatlah …”. Bukankah ini kenyataan yang sering kita terima dalam setiap perdebatan. Kasuistik, tetapi lama kelamaan bisa mematikan intelektual kita nanti kalau soal kecil ini juga tidak segera diselesaikan. Ini juga merupakan fenomena di dunia mahasiswa kita hari. Mungkin ada benarnya, tetapi penulis beranggapan lebih banyak salahnya. Kenapa? Pernahkah kita bertanya,, dimanakah tempat kita mahasiswa? Soe Hok Gie (aktivis 66), pernah berkata adalah kita mahasiswa-mahasiswa yang sedang berusaha mempelajari persoalan-persoalan dan merumuskan konsepsi kita kedepan. Kiranya mampu mencerahkan kembali pergerakan mahasiswa. Tidak ada salahnya kita berdiskusi elitis tetapi jangan bersikap elitis, setidaknya itulah refleksi yang sedang digumulkan penulis.
Ini adalah soal yang harus kita selesaikan sebelum kita bercerita yang lebih jauh. Masa depan bangsa kita ini berada ditangan generasi muda terkhusus ditangan-tangan kita mahasiswa. Revolusi dan reformasi yang digulirkan mahasiswa merupakan bukti kehadiran generasi muda yang diidentikkan dengan sifat dinamis dan anti-kemapanan.
Mahasiswa harus ikut ambil bagian dalam mempelajari konsepsi-konsepsi kebangsaan yang telah ditelurkan para pendahulu negeri ini. Ambil contohnya kebangsaan yang pernah dituliskan Ki Hadjar Dewantara dengan judul “als ik eens Nederlander was” yang menyindir kolonial Belanda yang merayakan kemerdekaan mereka di atas penderitaan bangsa ini. secara eksplisit, Ki hadjar berkata: “jika saya seorang Belanda, maka saya akan sangat malu memperingati hari kemerdekaan bangsa saya dengan merampas kemerdekaan bangsa lain”. Dan masih banyak lagi konsepsi yang bisa kita pelajari dan tidak ada salahnya kita juga mencoba merumuskan persoalan kebangsaan dewasa ini.
Sudah saatnya mahasiwa kembali mengorientasikan dan mengkonsolidasikan gerakannya kedalam gerakan pemikiran.Setiap elemen masyarakat punya medannya masing-masing. Mahasiswa identik dengan pemikir. Jadi, mulailah dengan belajar mengenai konsepsi-konsepsi yang ada dan berusaha mempelajari persoalan-persoalanyang ada.
Ada kutipan menarik yang pernah dituliskan Yudi Latif dalam bukunya Menyemai Karakter Bangsa perihal tentang wawasan kebangsaan kita, yaitu kejatuhan politik cuma kehilangan penguasa; kejatuhan ekonomi, cuma kehilangan sesuatu. Tetapi kalau kejatuhan karakter, suatu bangsa kehilangan segalanya. Begitu vital dan fatalnya bila kita melupakan soal besar yang satu ini, yakni kebangsaan. Akhir kata mudah-mudahan kaum intelektual muda menyadari peran yang harus mereka lakoni untuk Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur. Debita ab erudite quoque libris reverentia (kehormatan orang terpelajar berasal dari buku).