Tentunya kita masih mengingat (barangkali) bagaimana peranan kaum-kaum cendikiawan muda dalam mengawal peradaban bangsa dan negara ini. Sejarah juga telah mencatatkan bagaimana pengaruh yang diberikan mereka dalam menyelesaikan agenda-agenda besar bangsa dan negara kita ini. Mulai dari masa kebangkitan nasional, sumpah pemuda, orde lama, orde baru sampai orde reformasi sampai saat ini. Tak bisa dipungkiri, dokumentasi sejarah kita banyak menjelaskan kaum-kaum intelektual punya peranan besar dalam mengantarkan bangsa kita pada masa sekarang ini.
Banyak tokoh-tokoh yang sudah menorehkan tinta emas dalam peradaban bangsa ini. Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Bung Tomo, Amir Syarifuddin, J. Leimena dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan penulis satu per satu. Mereka adalah cerdik cendikiawan muda atau yang paling sering kita sebut sebagai intelektual muda di jamannya. Banyak prestasi-prestasi yang berhasil mereka torehkan bagi bangsa ini, sehingga kita bisa menikmatinya sampai saat ini. Soekarno misalnya, tidak satupun (mungkin) rakyat di bumi pertiwi ini yang tidak mengenal sosok yang satu ini. Pengorbanannya begitu gigih dalam mengantarkan bangsa ini kedalam pintu kemerdekaan bersama rekan-rekan seperjuangan beliau hingga mengisi kemerdekaan itu sendiri.
Mahasiswa sebagai kaum-kaum intelektual muda punya sejuta perkerjaan rumah yang diwarisi pendahulu negeri ini dalam merumuskan/menggagas kebangsaan kita hari. Pesona juang mahasiswa dulunya tidak diragukan lagi. Masih segar diingatan bagaimana mahasiswa menumbangkan rezim Soeharto yang korup dan inkompetensi dalam mengawal perekonomian hingga mencapai puncaknya pada tahun 1998 yang ditandai awal dari sejarah berdirinya orde reformasi yang mencita-citakan pemerintahan yang bersih (good governance) dan maju ekonominya.
Belakangan ini, isu tentang kebangsaan (nation and character building) kembali marak didengung-dengungkan. Lembaga pendidikan kita juga ikut meramaikan isu ini melalui agenda yang sering disoalkan yaitu pendidikan karakter yang merupakan subsistem dari kebangsaan itu sendiri. Hingga presiden dan wakil presiden merasa perlu untuk memberikan komentarnya tentang kebangsaan kita hari ini. Akhlak, moral, budi pekerti, etika dan estetika, perilaku yang baik merupakan sekumpulan kata-kata yang sering disoal pemimpin negeri ini. Kita ingin menjadi bangsa yang memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Tentunya tidak sekedar unggul dan mulia yang biasa, tetapi menjadi bangsa yang genuine and bercirikan sejatinya
Soekarno pernah berwasiat: “tugas berat bangsa
Rasa kebangsaan adalah kesadaran kita berbangsa, lahir atas faktor-faktor kesamaan nasib dan tujuan. Bukan didirikan atas kesamaan agama, tempat, bahasa atau budaya. Konsensus dalam masyarakat merupakan ikhtiar yang terpenting yang dimanisfestasikan dalam sumpah pemuda (1928) yang tentunya di inisiasi oleh orang-orang muda yang berpikir buat kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Interaksi dan saling mempengaruhi dalam pengembangan wacana kebangsaan yang memiliki karakteristik yang dinamis dari waktu ke waktu, berbeda dalam satu lingkungan masyarakat dengan lingkungan lainnya. Ada pendekatan ras dan agama seperti Israel dan Yahudi, ada pendekatan ras-etnis (Nazisme), etnis-agama (Malaysia), sedangkan Indonesia lebih kepada pendekatan ideologi (Pancasila) dengan Geografi (Geopolitik) dalam merumuskan kebangsaannya.
Krisis multi dimensi yang melanda negeri ini telah memperlihatkan tanda-tanda awal munculnya krisis kepercayaan diri (self confidence) dan kehormatan (self esteem) sebagai bangsa. Eksistensi
Lantas dimanakah peranan mahasiswa kita hari ini? benarkah bahwa kita mahsiswa harus berdiri di jalan-jalan untuk berdemonstrasi? Bukankah kita-kita ini pemikir yang harusnya berdiri dibelakang untuk bercerita mengenai konsepsi pemikiran yang membelenggu negeri kita. Penulis bukan ingin menampik anggapan yang terjadi belakangan ini dalam dunia mahasiswa kita hari ini, tetapi kecenderungan demonstrasi yang terjadi, gegap gempita di jalan tetapi miskin gagasan. Tidak heran dalam setiap manajemen aksi kita lebih banyak bercerita bagaimana meramaikan aksi ketimbang menggali isu-isu yang akan kita bawa. Mungkin ada benarnya juga, generasi kita lebih menyenangi
Kekeringan intelektual yang dirasakan penulis mungkin bisa menjadi pelecut refleksi 65 tahun republik ini. semuanya rasa-rasanya sudah terseret keranah yang begitu artifisial. Jauh dari makna sejatinya. Demokrasi hanya dimaknai kebebasan tanpa batas yang (harus) dimanifestasikan dalam demonstrasi. Belum lagi kalau kita mengamati organisasi yang mengatasnamakan mahasiswa sebagai basis anggotanya yang notabenenya sebagai organisator pemikiran-pemikiran bernas kaum-kaum intelektual, ternyata tidak kuasa melawan tantangan arus modernisasi dan globalisasi.
Terlalu sering kita mendengarkan pernyataan , “jangan banyak berdiskusi, berbuatlah …”. Bukankah ini kenyataan yang sering kita terima dalam setiap perdebatan. Kasuistik, tetapi lama kelamaan bisa mematikan intelektual kita nanti kalau soal kecil ini juga tidak segera diselesaikan. Ini juga merupakan fenomena di dunia mahasiswa kita hari. Mungkin ada benarnya, tetapi penulis beranggapan lebih banyak salahnya. Kenapa? Pernahkah kita bertanya,, dimanakah tempat kita mahasiswa? Soe Hok Gie (aktivis 66), pernah berkata adalah kita mahasiswa-mahasiswa yang sedang berusaha mempelajari persoalan-persoalan dan merumuskan konsepsi kita kedepan. Kiranya mampu mencerahkan kembali pergerakan mahasiswa. Tidak ada salahnya kita berdiskusi elitis tetapi jangan bersikap elitis, setidaknya itulah refleksi yang sedang digumulkan penulis.
Ini adalah soal yang harus kita selesaikan sebelum kita bercerita yang lebih jauh. Masa depan bangsa kita ini berada ditangan generasi muda terkhusus ditangan-tangan kita mahasiswa. Revolusi dan reformasi yang digulirkan mahasiswa merupakan bukti kehadiran generasi muda yang diidentikkan dengan sifat dinamis dan anti-kemapanan.
Mahasiswa harus ikut ambil bagian dalam mempelajari konsepsi-konsepsi kebangsaan yang telah ditelurkan para pendahulu negeri ini. Ambil contohnya kebangsaan yang pernah dituliskan Ki Hadjar Dewantara dengan judul “als ik eens Nederlander was” yang menyindir kolonial Belanda yang merayakan kemerdekaan mereka di atas penderitaan bangsa ini. secara eksplisit, Ki hadjar berkata: “jika saya seorang Belanda, maka saya akan sangat malu memperingati hari kemerdekaan bangsa saya dengan merampas kemerdekaan bangsa lain”. Dan masih banyak lagi konsepsi yang bisa kita pelajari dan tidak ada salahnya kita juga mencoba merumuskan persoalan kebangsaan dewasa ini.
Sudah saatnya mahasiwa kembali mengorientasikan dan mengkonsolidasikan gerakannya kedalam gerakan pemikiran. Setiap elemen masyarakat punya medannya masing-masing. Mahasiswa identik dengan pemikir. Jadi, mulailah dengan belajar mengenai konsepsi-konsepsi yang ada dan berusaha mempelajari persoalan-persoalan yang ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar