Laman

Rabu, 03 November 2010

Kaum Intelektual (Mahasiswa) dalam Menggagas Kebangsaan

Tentunya kita masih mengingat (barangkali) bagaimana peranan kaum-kaum cendikiawan muda dalam mengawal peradaban bangsa dan negara ini. Sejarah juga telah mencatatkan bagaimana pengaruh yang diberikan mereka dalam menyelesaikan agenda-agenda besar bangsa dan negara kita ini. Mulai dari masa kebangkitan nasional, sumpah pemuda, orde lama, orde baru sampai orde reformasi sampai saat ini. Tak bisa dipungkiri, dokumentasi sejarah kita banyak menjelaskan kaum-kaum intelektual punya peranan besar dalam mengantarkan bangsa kita pada masa sekarang ini.

Banyak tokoh-tokoh yang sudah menorehkan tinta emas dalam peradaban bangsa ini. Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Bung Tomo, Amir Syarifuddin, J. Leimena dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan penulis satu per satu. Mereka adalah cerdik cendikiawan muda atau yang paling sering kita sebut sebagai intelektual muda di jamannya. Banyak prestasi-prestasi yang berhasil mereka torehkan bagi bangsa ini, sehingga kita bisa menikmatinya sampai saat ini. Soekarno misalnya, tidak satupun (mungkin) rakyat di bumi pertiwi ini yang tidak mengenal sosok yang satu ini. Pengorbanannya begitu gigih dalam mengantarkan bangsa ini kedalam pintu kemerdekaan bersama rekan-rekan seperjuangan beliau hingga mengisi kemerdekaan itu sendiri.

Mahasiswa sebagai kaum-kaum intelektual muda punya sejuta perkerjaan rumah yang diwarisi pendahulu negeri ini dalam merumuskan/menggagas kebangsaan kita hari. Pesona juang mahasiswa dulunya tidak diragukan lagi. Masih segar diingatan bagaimana mahasiswa menumbangkan rezim Soeharto yang korup dan inkompetensi dalam mengawal perekonomian hingga mencapai puncaknya pada tahun 1998 yang ditandai awal dari sejarah berdirinya orde reformasi yang mencita-citakan pemerintahan yang bersih (good governance) dan maju ekonominya.

Belakangan ini, isu tentang kebangsaan (nation and character building) kembali marak didengung-dengungkan. Lembaga pendidikan kita juga ikut meramaikan isu ini melalui agenda yang sering disoalkan yaitu pendidikan karakter yang merupakan subsistem dari kebangsaan itu sendiri. Hingga presiden dan wakil presiden merasa perlu untuk memberikan komentarnya tentang kebangsaan kita hari ini. Akhlak, moral, budi pekerti, etika dan estetika, perilaku yang baik merupakan sekumpulan kata-kata yang sering disoal pemimpin negeri ini. Kita ingin menjadi bangsa yang memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Tentunya tidak sekedar unggul dan mulia yang biasa, tetapi menjadi bangsa yang genuine and bercirikan sejatinya Indonesia.

Soekarno pernah berwasiat: “tugas berat bangsa Indonesia dalam mengisi kemerdekaan adalah mengutamakan pelaksanaan nation and character building”. Tanpa wasiat ini barangkali negara ini tidak lebih hanya bisa menjadi bangsa boneka. Bangsa yang tidak mandiri, bangsa yang harus didikte bangsa lain. Kedaulatan, kemandirian dan kepribadian hanya menjadi mimpi bila bangsa kita melupakan wasiat salah satu founding father negeri ini. Kesalahan inilah yang dapat menjerumuskan Indonesia seperti apa yang diwanti-wanti bapak pendiri negeri ini, “menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa”. Bahkan untuk kemungkinan yang terburuk lagi, menjadi bangsa pengemis dan pengemis di antara bangsa-bangsa. Kebangsaan merupakan agenda besar bagi negeri yang sudah mulai kehilangan arah dalam dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Rasa kebangsaan adalah kesadaran kita berbangsa, lahir atas faktor-faktor kesamaan nasib dan tujuan. Bukan didirikan atas kesamaan agama, tempat, bahasa atau budaya. Konsensus dalam masyarakat merupakan ikhtiar yang terpenting yang dimanisfestasikan dalam sumpah pemuda (1928) yang tentunya di inisiasi oleh orang-orang muda yang berpikir buat kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Interaksi dan saling mempengaruhi dalam pengembangan wacana kebangsaan yang memiliki karakteristik yang dinamis dari waktu ke waktu, berbeda dalam satu lingkungan masyarakat dengan lingkungan lainnya. Ada pendekatan ras dan agama seperti Israel dan Yahudi, ada pendekatan ras-etnis (Nazisme), etnis-agama (Malaysia), sedangkan Indonesia lebih kepada pendekatan ideologi (Pancasila) dengan Geografi (Geopolitik) dalam merumuskan kebangsaannya.

Krisis multi dimensi yang melanda negeri ini telah memperlihatkan tanda-tanda awal munculnya krisis kepercayaan diri (self confidence) dan kehormatan (self esteem) sebagai bangsa. Eksistensi Indonesia sebagai bangsa (nation) sedang dipertaruhkan, melihat kecenderungan-kecenderungan yang terjadi di negara ini. Aspirasi politik untuk merdeka di berbagai daerah, skandal kasus-kasus korupsi, kedaulatan yang dijadikan barang mainan (kasus RI-Malaysia), krisis kepemimpinan, model ekonomi yang tidak mandiri merupakan wujud dan fenomena krisis kepercayaan diri sebagai suatu bangsa.

Lantas dimanakah peranan mahasiswa kita hari ini? benarkah bahwa kita mahsiswa harus berdiri di jalan-jalan untuk berdemonstrasi? Bukankah kita-kita ini pemikir yang harusnya berdiri dibelakang untuk bercerita mengenai konsepsi pemikiran yang membelenggu negeri kita. Penulis bukan ingin menampik anggapan yang terjadi belakangan ini dalam dunia mahasiswa kita hari ini, tetapi kecenderungan demonstrasi yang terjadi, gegap gempita di jalan tetapi miskin gagasan. Tidak heran dalam setiap manajemen aksi kita lebih banyak bercerita bagaimana meramaikan aksi ketimbang menggali isu-isu yang akan kita bawa. Mungkin ada benarnya juga, generasi kita lebih menyenangi gaya ketimbang makna.

Kekeringan intelektual yang dirasakan penulis mungkin bisa menjadi pelecut refleksi 65 tahun republik ini. semuanya rasa-rasanya sudah terseret keranah yang begitu artifisial. Jauh dari makna sejatinya. Demokrasi hanya dimaknai kebebasan tanpa batas yang (harus) dimanifestasikan dalam demonstrasi. Belum lagi kalau kita mengamati organisasi yang mengatasnamakan mahasiswa sebagai basis anggotanya yang notabenenya sebagai organisator pemikiran-pemikiran bernas kaum-kaum intelektual, ternyata tidak kuasa melawan tantangan arus modernisasi dan globalisasi.

Terlalu sering kita mendengarkan pernyataan , “jangan banyak berdiskusi, berbuatlah …”. Bukankah ini kenyataan yang sering kita terima dalam setiap perdebatan. Kasuistik, tetapi lama kelamaan bisa mematikan intelektual kita nanti kalau soal kecil ini juga tidak segera diselesaikan. Ini juga merupakan fenomena di dunia mahasiswa kita hari. Mungkin ada benarnya, tetapi penulis beranggapan lebih banyak salahnya. Kenapa? Pernahkah kita bertanya,, dimanakah tempat kita mahasiswa? Soe Hok Gie (aktivis 66), pernah berkata adalah kita mahasiswa-mahasiswa yang sedang berusaha mempelajari persoalan-persoalan dan merumuskan konsepsi kita kedepan. Kiranya mampu mencerahkan kembali pergerakan mahasiswa. Tidak ada salahnya kita berdiskusi elitis tetapi jangan bersikap elitis, setidaknya itulah refleksi yang sedang digumulkan penulis.

Ini adalah soal yang harus kita selesaikan sebelum kita bercerita yang lebih jauh. Masa depan bangsa kita ini berada ditangan generasi muda terkhusus ditangan-tangan kita mahasiswa. Revolusi dan reformasi yang digulirkan mahasiswa merupakan bukti kehadiran generasi muda yang diidentikkan dengan sifat dinamis dan anti-kemapanan.

Mahasiswa harus ikut ambil bagian dalam mempelajari konsepsi-konsepsi kebangsaan yang telah ditelurkan para pendahulu negeri ini. Ambil contohnya kebangsaan yang pernah dituliskan Ki Hadjar Dewantara dengan judul “als ik eens Nederlander was” yang menyindir kolonial Belanda yang merayakan kemerdekaan mereka di atas penderitaan bangsa ini. secara eksplisit, Ki hadjar berkata: “jika saya seorang Belanda, maka saya akan sangat malu memperingati hari kemerdekaan bangsa saya dengan merampas kemerdekaan bangsa lain”. Dan masih banyak lagi konsepsi yang bisa kita pelajari dan tidak ada salahnya kita juga mencoba merumuskan persoalan kebangsaan dewasa ini.

Sudah saatnya mahasiwa kembali mengorientasikan dan mengkonsolidasikan gerakannya kedalam gerakan pemikiran. Setiap elemen masyarakat punya medannya masing-masing. Mahasiswa identik dengan pemikir. Jadi, mulailah dengan belajar mengenai konsepsi-konsepsi yang ada dan berusaha mempelajari persoalan-persoalan yang ada.

Ada kutipan menarik yang pernah dituliskan Yudi Latif dalam bukunya Menyemai Karakter Bangsa perihal tentang wawasan kebangsaan kita, yaitu kejatuhan politik cuma kehilangan penguasa; kejatuhan ekonomi, cuma kehilangan sesuatu. Tetapi kalau kejatuhan karakter, suatu bangsa kehilangan segalanya. Begitu vital dan fatalnya bila kita melupakan soal besar yang satu ini, yakni kebangsaan. Akhir kata mudah-mudahan kaum intelektual muda menyadari peran yang harus mereka lakoni untuk Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur. Debita ab erudite quoque libris reverentia (kehormatan orang terpelajar berasal dari buku).

Selasa, 24 Agustus 2010

Begitu Manis

Buat sgala yang sudah terukir

Dia mengingatkan akan pentingnya kesederhanaan bagiku

Begitu manis

Wajahnya selalu membayangi sisi-sisi duniaku

Sebentar menoleh kepadaku

Begitu manis

Kulit hitamnya menegaskan pendiriannya

Bahwa dia akan slalu berdiri tuk nikmati sisa hidupnya

Tak akan layu sebelum berkembang

Ntahlah dia memikirkanku?

Tapi bagiku itu bagian yang terlalu penting

Ada goresan wajah yang slalu membuatku tersenyum

Begitu manis

Begitulah dia

Slalu menghantuiku belakangan ini

Menakutkan buat kenyataan di depan mata

Penyesalan slalu datang belakangan

Kadang ku bertanya dalam hati

Bergunakah ratapan-ratapanku padanya?

Bisikan demi bisikan mengalir tak terbendung

Tuk sampaikan kebenaran yang menyejukan jiwaku

Sebenarnya ku ragu benarkah ini rasa itu?

Slalu begitu

Lenyap di makan masa-masa

Hingga berakhir begitu datar begitu sunyi hingga tak terdengar lagi

Tapi setidaknya sejarah hidupku telah mencatatkan namanya

Nama buat pribadi yang begitu manis

setidaknya sampai berujung pada kata ini

Buat ...

Buat kepala-kepala keras yang mengidolakan kebodohan

Buat telunjuk-telunjuk yang merasa pahlawan

Buat hati-hati batu yang tak mampu lagi merasakan

Buat pikiran-pikiran yang meracuni kedamaian

Buat kata-kata pahit yang terlontar menembus karunia akal sehat bersama

Buat nada-nada sumbang yang bergelora ke langit-langit kedengkian

Buat lagu-lagu kecongkakan yang memekakkan telinga

Buat canda tawa yang meyesatkan pikiran

Buat senyuman-senyuman sarat kemunafikan

Buat penderitaan-penderitaan yang takkan berkesudahan

Buat perasaan-perasaan yang sudah membabi buta

Buat hasrat-hasrat serakah yang merusak

Buat tatapan-tatapan curiga

Dan untuk yang terakhir

Buat kebodohan-kebodohan yang kita jalani bersama

Dengarlah saudaraku...

Biarlah mereka yang sudah berlalu... Biarkan berlalu

Jangan biarkan mereka merampas masa-masa emas kita

Masa dimana kita menabur benih-benih pengharapan di ladang kita bersama

Mereka adalah generasi-generasi tua yang mengacau

Kita ditugaskan untuk memberantas mereka yang menatap kita dengan api keserakahannya

Mari kita habisi masa-masa itu

Sebuah Tanya

Luka piluh sembiluh melekat di hatiku

Betapa tidak

Kenapa kau menatapku curiga

Seakan kau merasakan bahwa aku ini bukan saudaramu

Akhir-akhir ini, ku sering memperhatikan tatapan sinis matamu

Menaruh curiga pada kenangan-kenangan yang kita rajut bersama

Berpura-pura mesra ketika berhadapan denganku

Tetapi percayalah saudaraku

Ku masih seperti dahulu

Berpegang teguh pada ikatan yang meyatukan emosi kita

Akhirnya harus kukatakan padamu

Apa yang sering terngiang dikepalaku akhir-akhir ini dari teman imajinasiku

“Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta”

Rabu, 04 Agustus 2010

Merajut Persekutuan (Gemeinschaft) dengan Konsep Per-Teman-an

“GMKI bukanlah merupakan gesellschaft, melainkan ia adalah suatu gemeinschaft, persekutuan dalam Kristus Tuhannya…” bukanlah sesuatu yang asing di telinga kita yang tergabung dalam persekutuan yang sering diistilahkan dengan “benang biru” yaitu Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia.

Kutipan diatas disampaikan salah satu founding father GMKI, Johannes Leimena pada saat memproklamirkan bahwa sudah saatnya mahasiswa ikut ambil bagian dalam perjuangan pergerakan untuk kebaikan dan kepentingan negara dan bangsa Indonesia, serta memperjuangkan oikumenisme (eucumenical’s mission) dalam injil kehidupan, kematian dan kebaktian Yesus Kristus sebagai Sang Kepala Gerakan.

Berangkat dari terminologi diatas, gemeinschaft dan gesellschaft merupakan pada dasarnya pengertian dari teori sosial yang terjadi dalam masyarakat. Tonnies, tokoh sosiolog kenamaan yang satu ini membedakan dua tipologi persekutuan (asosiasi) yang ada di masyarakat, yaitu asosiasi Gemeinschaft dan Gesellschaft berdasarkan pada upaya untuk mengungkap motif dan sentimen yang ada di balik hubungan antar manusia atau masyarakat yang membuatnya tetap bersama dan melakukan kerja sama.

Gemeinschaft adalah masyarakat yang menjadi ciri desa kecil di pedalaman, memiliki tujuan kesatuan yang esensial, orang bekerja sama untuk kepentingan bersama, kehidupan sosial bercirikan: "hidup bersama yang karib, pribadi dan eksklusif”, mereka mengakui "kebaikan bersama, kejahatan bersama, sahabat bersama, musuh bersama", dalam diri mereka terkandung "we-ness" dan "our-ness", dan dipandang sebagai organisme hidup. Sedangkan, Gesellschaft adalah kumpulan (association) yang menjadi ciri kota besar, yang bercirikan perpecahan (individualisme dan mementingkan diri sendiri), tidak ada kebaikan bersama dan ikatan keluarga, lingkungan cenderung tidak banyak mempunyai arti mekanikal dan artifact (buatan manusia), lebih rasional, lebih memperhitungkan, dan eksistensi bergeser dari kelompok ke individual.

Berbeda halnya kalau kita merujuk dari teori yang dikemukakan oleh Durkheim. Tokoh sosiolog yang satu ini agak berbeda pemahaman dalam melihat sisi solidaritas sosialnya. Untuk itu, ia kemudian mengembangkan konsep tentang solidaritas mekanik dan solidaritas organik yang pada tataran tertentu dapat disamakan atau dibandingkan dengan Gemeinschaft dan Gesellschaft dari Tonnies.

Adapun ciri-ciri dari solidaritas mekanik dan organik adalah sebagai berikut: Solidaritas mekanik merujuk kepada ikatan sosial yang dibangun atas kesamaan, kepercayaan dan adat bersama. Disebut mekanik, karena orang yang hidup dalam unit keluarga suku atau kota relatif dapat berdiri sendiri dan juga memenuhi semua kebutuhan hidup tanpa tergantung pada kelompok lain. Sedangkan, Solidaritas organik menguraikan tatanan sosial berdasarkan perbedaan individual diantara rakyat yang merupakan ciri dari masyarakat modern, khususnya kota. bersandar pada pembagian kerja (division of labor) yang rumit dan didalamnya orang terspesialisasi dalam pekerjaan yang berbeda-beda, seperti dalam organ tubuh, orang lebih banyak saling bergantung untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Dalam Division of Labor yang rumit ini, Durkheim melihat adanya kebebasan yang lebih besar untuk semua masyarakat: kemampuan untuk melakukan lebih banyak pilihan dalam kehidupan mereka. Meskipun Durkheim mengakui bahwa kota-kota dapat menciptakan impersonality (sifat tidak mengenal orang lain), alienasi, disagreement dan konflik, ia mengatakan bahwa solidaritas organik lebih baik dari pada solidaritas mekanik. Beban yang kami berikan dalam masyarakat modern lebih ringan daripada masyarakat pedesaan dan memberikan lebih banyak ruang kepada kita untuk bergerak bebas.

Kita harus jujur mengakui. Banyak dari kalangan kita tidak mampu lagi memaknai persekutuan yang dimaksud dalam terminologi diatas. Sudah sangat jelas bahwa GMKI adalah Gemeinschaft yang mengandung prinsip yang berbeda dengan Gesellschaft.

Hal ini jelas keliatan dalam aktivitas tugas pelayanan kita dalam menjalankan tugas-tugas organisasi. Kecurigaan subjektif dapat membiaskan semangat persekutuan dalam membina kasih persaudaraan sehingga berdampak pada susahnya mengoptimalkan kerja-kerja (program) guna pencapaian tantangan medan pelayanan GMKI (Perguruan Tinggi, Gereja dan Masyarakat). Ini merupakan salah satu dari banyak sebab yang dianggap penulis sebagai ketidakmampuan kita dalam mengaplikasikan semangat persekutuan yang sering kita singgung baik dalam forum resmi maupun dalam forum dan diskusi yang sifatnya tidak resmi.

Masih banyak soal-soal yang bisa menjadi koreksi pemahaman kita dalam memaknai persekutuan. Dalam berdebat misalnya, pernahkah kita menempatkan lawan bicara kita sebagai saudara sebagaimana prinsip sebuah persekutuan? Mungkin bagi kita merupakan kebanggaan tersendiri bila membuat lawan bicara kita yang notabenenya saudara sebenang biru merasa tersudut, keliatan bodoh, bereaksi marah karena argumentasi yang bersifat meyinggung hak pribadi (privillage). Atau pernahkah kita menganggap persoalan yang dihadapi kelompok lain di dalam kita merupakan persoalan kita bersama? Pernahkah kita berusaha untuk mendiskreditkan orang atau badan/lembaga yang nyata-nyatanya berada dalam persekutuan kita bersama?

Pertanyaan-pertanyaan diatas bukan merupakan suatu bentuk justifikasi tetapi lebih kepada bagaimana kita sebagai entitas-entitas hidup mengenal persoalan-persoalan yang terjadi di lingkungan kita yang mungkin bermuara pada kontradiksi atau semacam distorsi ide dengan kenyataan.

Bagi orang percaya hubungan dengan Tuhan adalah hal yang terpenting dan terutama. Kita rindu untuk mempunyai hubungan dan persekutuan yang indah dengan Tuhan. Tetapi hal yang tidak boleh diabaikan adalah hubungan di antara sesama kita. Karena suatu hubungan/persekutuan dengan Allah yang baik dan benar, secara otomatis orang tersebut seharusnya mempunyai hubungan yang baik dengan sesamanya, khususnya saudara-saudari seiman.

Adalah bahaya besar kalau dikatakan orang ini rohani, punya persekutuan yang indah dengan Tuhan, tetapi persekutuan dengan saudara seiman bermasalah. Jadi persekutuan antara sesama adalah cermin dari ibadah kita yang benar dan baik dengan saleh. Kalau hubungan vertikal baik, otomatis hubungan horisontal juga baik. Bisa jadi seorang yang mempunyai hubungan horisontal bagus, belum tentu memiliki hubungan vertikal yang bagus pula. Tetapi seorang yang mempunyai hubungan vertikal yang bagus, seharusnya hubungan horisontalnya juga bagus.

Dalam memahami persekutuan yang dimaksud diatas, penulis ingin mengajak kita menyederhanakan persoalan tetapi bukan dalam rangka mengurangi apa yang menjadi esensi yang kita bicarakan.

Persekutuan erat kaitannya dengan pertemanan. Mungkin banyak dari antara kita yang meragukan kesimpulan ini. Tapi itu sah-sah saja. Semua merupakan proses dialektika argumen dalam mencapai pengertian yang lebih mendalam untuk mencapai persamaan pemaknaan. Tapi setidaknya itulah yang dirasakan penulis hingga harus mengangkat tulisan ini untuk bahan evaluasi atau rekomendasi dalam menata hubungan interpersonal kita (persekutuan ala GMKI).

Kejujuran merupakan cikal bakal perubahan, merupakan kalimat sakti yang harus kita renungkan bersama-sama. Mungkin tidaklah sesuatu yang berlebihan bahwa pengingkaran terhadapa prinsip kejujuran merupakan tindakan yang kontra revolusioner (hegemoni pasca kemerdekaan Soekarno). Ketidakjujuran dalam melihat persoalan akan menghasilkan penyelesaian yang tidak menyentuh akar persoalan. Misalnya, ketidakjujuran mengakui kemampuan pengurus organisasi akan tugas-tugasnya berdampak susahnya organisasi mencari solusi persoalan dalam tubuh organisasi.

Banyak dari antara kita masih bergabung dalam organisasi ini dikarenakan hubungan pertemanan. Anggota-anggota dalam sebuah organisasi GMKI merupakan entitas-entitas yang diberi tugas untuk mewujudkan apa yang menjadi visi dan misi organisasi dalam balutan persekutuan. Apa jadinya kalau seorang entitas dalam organisasi merasa sudah tidak punya teman dalam organisasi tersebut? Akankah dia masih tetap memilih untuk aktif berkegiatan? Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing. Sejauh mana motivasi kita dalam bergabung dalam persekutuan ini akan menentukan keputusan yang akan kita ambil bila terlibat dalam pengandaian tersebut.

Tetapi harus kita akui, hampir kebanyakan dari kita yang masih bertahan dalam perserkutuan ini lebih didasari oleh latar belakang pertemanan, baik itu dalam mencari teman biasa maupun teman yang luar biasa (maksudnya pacar atau yang lebih lagi teman hidup). Sulitnya rasanya menepis anggapan ini, apalagi sering kali kita sebagai entitas dalam organisasi ini memplesetkan istilah GMKI dengan Gerakan Mencari Kawan Intim yang mungkin bagi sebagian orang merupakan bahan gurauan sesaat yang bisa menghidupkan suasana pembicaraan atau barangkali ada pesan-pesan yang mau disampaikan dalam rangka menggugat realitas yang terjadi terhadap penyelewangan dari cita-cita luhur pendiri organisasi ini.

Tidak ada yang salah menggunakan pendekatan pertemanan dalam membangun persekutuan dalam tubuh organisasi ini. Terbukti, kehadiran GMKI sampai saat ini masih tetap eksis dikarenakan pendekatan pertemanan diatas. Barangkali kalau kita mau lebih serius menggali pemahaman tentang organisasi ini. Kita akan menemukan kesadaran yang lebih tinggi sifatnya mengarahkan kita pada apa yang dinamakan militansi berorganisasi. Bahwasanya kita masih tetap berdiri di GMKI dikarenakan panggilan-Nya untuk berbuat setelah anugerah (Sola Gratia) yang diberikan-Nya kepada kita sebagai warga Kerajaan Sorga bagi yang percaya pada-Nya (Roma 10: 9, Yohanes 5: 24, 1 Yohanes 5; 13, dan Yohanes 20: 31).

Penulis jadi teringat akan suatu kalimat bijak yang digunakan “saudara kita yang diseberang” dalam menarik perhatian mahasiswa-mahasiswa untuk bergabung dengan organisasi mereka ditengah pesatnya pemikiran pragmatisme mahasiswa dalam berburu organisasi yang mapan. Disebutkan “Jangan mencari hidup di Muhammadiyah, tetapi hidup-hidupilah Muhammadiyah” barangkali seperti itulah pesan yang dimanisfestasikan dalam susunan kalimat yang menggugah kesadaran pembacanya.

Tidak ada salahnya kalau kita belajar dari kata-kata bijak diatas.